Logo UT
FKIP UT Universitas Terbuka

Pencarian Terakhir

Belum ada riwayat pencarian.
Tekan ENTER untuk mencari FKIP Universitas Terbuka
← Kembali ke Beranda

Prodi PPKn Universitas Terbuka Kunjungi Laboratorium PancasilaUniversitas Negeri Malang

📅 3 August 2026 📂 Berita

Malang, 3 Agustus 2026, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka (UT) melakukan kunjungan akademik ke Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM), Senin (3/8). Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00-15.00 WIB tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan sekaligus menggali praktik baik dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat berbasis nilai-nilai Pancasila.

Delegasi FKIP Universitas Terbuka dipimpin oleh Dr. Mukti Amini, M.Pd., selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Layanan Pembelajaran, dan Kerja Sama FKIP Universitas Terbuka. Turut hadir Muhammad Sulaiman, S.Pd.I., B.I.S., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam UT, serta Dr. Izzul Fatawi, M.Pd.I., Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan UT.

Kedatangan delegasi UT disambut langsung oleh Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si., selaku Ketua Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang, bersama jajaran pengelola Laboratorium Pancasila. Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan nilai-nilai kebangsaan, keadilan, persatuan, dan demokrasi. Kerja sama yang dibangun diharapkan menjadi landasan strategis bagi pelaksanaan berbagai program bersama yang memberikan manfaat bagi kedua institusi.

Laboratorium Pancasila sebagai Pusat Pembentukan Karakter

Dalam paparannya, Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si., menekankan bahwa Laboratorium Pancasila memiliki posisi strategis dalam penguatan karakter mahasiswa. Laboratorium tidak hanya dipandang sebagai ruang fisik, tetapi sebagai jembatan antara pengetahuan Pancasila dengan pembentukan karakter dan praktik kewarganegaraan mahasiswa.

“Jika pembelajaran di kelas memberikan civic knowledge, maka Laboratorium Pancasila dapat memperkuat civic skills, civic disposition, dan pada akhirnya mendorong civic action,” jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, Laboratorium Pancasila dikembangkan sebagai pusat pembelajaran, penelitian, praktik kewarganegaraan, inovasi, serta pembudayaan nilai-nilai Pancasila, termasuk dalam menghadapi dinamika kehidupan digital mahasiswa.

Dr. Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si., juga memaparkan visi, misi, berbagai kegiatan riset, serta implementasi pendidikan Pancasila yang telah dikembangkan. Diskusi turut membahas tantangan pendidikan nilai-nilai Pancasila di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat. Menurutnya, perkembangan teknologi digital perlu diimbangi dengan penguatan nilai dan etika. Pancasila dapat berfungsi sebagai kompas etika digital, sehingga kemajuan teknologi informasi tidak hanya menghasilkan kecakapan digital, tetapi juga memperkuat peradaban, persatuan, toleransi, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Dorong Implementasi Outcome Based Education

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut adalah implementasi Outcome Based Education (OBE). Melalui pendekatan OBE, pembelajaran nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti pada penguasaan materi atau hafalan, tetapi diarahkan pada kemampuan mahasiswa menunjukkan kinerja dan perilaku nyata yang mencerminkan nilai Pancasila.

Pembelajaran dikembangkan melalui kegiatan berbasis pengalaman, praktik demokrasi, pemecahan masalah, proyek sosial, refleksi, serta evaluasi. Dengan demikian, capaian pembelajaran dapat dilihat melalui bukti nyata berupa kemampuan, sikap, dan tindakan mahasiswa.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, berpartisipasi dalam kehidupan demokratis, serta bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Riset dan Pengabdian untuk Masyarakat

Dalam diskusi juga dibahas peran Laboratorium Pancasila dalam mendukung penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian ditempatkan sebagai fondasi pengembangan pengetahuan, sedangkan kegiatan pengabdian menjadi sarana untuk menghilirkan hasil riset dan kepakaran perguruan tinggi kepada masyarakat.

Hilirisasi tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari pengembangan produk terapan, modul pelatihan, teknologi tepat guna, hingga transfer pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Laboratorium Pancasila juga diarahkan untuk mendukung fungsi sebagai pusat pelatihandan pemberdayaan masyarakat melalui penyelenggaraan lokakarya, sertifikasi, dan pelatihan keterampilan bagi komunitas, UMKM, sekolah, maupun mitra pemerintah.

Inovasi Pendidikan Pancasila di Era Digital

Dalam kunjungan tersebut, Laboratorium Pancasila juga memperkenalkan sejumlah inovasi pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan mahasiswa.

Beberapa inovasi tersebut antara lain Digital Pancasila Laboratory, yang menyediakan materi, video, infografis, dan sumber belajar Pancasila berbasis digital; Simulasi Demokrasi melalui simulasi pemilu, musyawarah, sidang, dan pengambilan keputusan; serta Pancasila Case Study yang mengangkat berbagai persoalan aktual seperti intoleransi, hoaks, konflik sosial, dan ketidakadilan.

Selain itu, dikembangkan pula Civic Project, yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk merancang dan melaksanakan proyek sosial; Forum Dialog Pancasila yang mempertemukan mahasiswa dengan dosen, praktisi, komunitas, dan masyarakat; serta Pancasila Podcast/Video sebagai media penyebarluasan nilai-nilai Pancasila melalui platform digital.

Inovasi lainnya adalah Pojok Pancasila, yang menjadi ruang atau kanal bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, aspirasi, dan refleksi, serta program Pancasila Digital Citizenship yang memberikan edukasi mengenai etika bermedia sosial, anti-hoaks, dan komunikasi digital yang beradab.

Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Pancasila dapat dikembangkan secara kreatif dengan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan substansi nilai-nilai kebangsaan.

Laboratorium Pancasila sebagai Pusat Budaya Demokrasi

Hal menarik lainnya yang dibahas dalam pertemuan adalah peran Laboratorium Pancasila dalam membangun budaya demokrasi di perguruan tinggi.

Dr. Akhirul Aminulloh menegaskan bahwa laboratorium seharusnya tidak hanya menjadi tempat mahasiswa belajar tentang demokrasi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar melakukan demokrasi.

Karena itu, mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk terlibat dalam musyawarah, pengambilan keputusan, dialog publik, penyampaian aspirasi, penyelesaian masalah, serta berbagai aktivitas yang menumbuhkan budaya demokratis.

Untuk memastikan keberlanjutan program, Laboratorium Pancasila juga melakukan evaluasi secara berkala setiap tahun dengan membandingkan target, pelaksanaan, hasil, dampak, dan tindak lanjut. Evaluasi tersebut menjadi dasar untuk melakukan perbaikan dan pengembangan program pada periode berikutnya.

Membentuk Mahasiswa sebagai Warga Negara Aktif dan Bertanggung Jawab

Keberadaan Laboratorium Pancasila diharapkan mampu mendorong mahasiswa menjadi warga negara yang aktif, kritis, toleran, partisipatif, dan bertanggung jawab. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai Pancasila, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk menerapkannya dalam menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Pembelajaran berbasis pengalaman, praktik demokrasi, civic project, kegiatan sosial, dialog publik, dan pendidikan kewarganegaraan digital menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Seluruh kegiatan diperkuat dengan refleksi dan evaluasi untuk membangun civic knowledge, civic skills, civic disposition, dan civic action.

Dengan pendekatan tersebut, Laboratorium Pancasila dapat diposisikan sebagai living laboratory of citizenship, yakni ruang pembelajaran tempat mahasiswa belajar menjadi warga negara melalui praktik kewarganegaraan secara nyata, bukan hanya melalui pembelajaran teoritis.

Pertukaran Praktik Baik dan Penguatan Kolaborasi

Pertemuan antara FKIP Universitas Terbuka dan Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang berlangsung dalam suasana terbuka dan konstruktif. Para peserta tidak hanya membahas tata kelola dan kebijakan akademik, tetapi juga bertukar pengalaman mengenai berbagai tantangan perguruan tinggi dalam merespons perubahan dunia pendidikan.

Pertukaran gagasan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antarlembaga pendidikan tinggi sebagai strategi untuk meningkatkan mutu secara berkelanjutan. Melalui budaya berbagi pengetahuan dan praktik baik, perguruan tinggi dapat saling belajar, memperluas perspektif, serta melahirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan global.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata antara FKIP Universitas Terbuka dan Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang sebagai simbol persahabatan sekaligus penguatan hubungan kelembagaan.

Kunjungan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan berbagi pengalaman, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui berbagai program kolaboratif di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan inovasi pembelajaran, serta penguatan karakter dan budaya demokrasi mahasiswa. Kedua pihak pun menyatakan optimisme untuk segera menindaklanjuti berbagai peluang kerja sama yang telah dibahas, sehingga sinergi antara Universitas Terbuka dan Universitas Negeri Malang dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan di Indonesia.

📸 Galeri Dokumentasi Kegiatan

Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Dokumentasi
🔍 Perbesar
Call Center FKIP