Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), bersama Magister Pendidikan Anak Usia Dini (MPAUD), Sekolah Pascasarjana, Universitas Terbuka (UT) sukses menyelenggarakan International Webinar bertajuk “Bridging Islamic Education and Early Childhood Development in Global Contexts” pada hari Jumat, 5 Juni 2026, pukul 13.30–17.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting dan live streaming YouTube ini berhasil menarik antusiasme luar biasa dari kalangan akademisi, pendidik, mahasiswa, peneliti, serta praktisi pendidikan dari berbagai penjuru Indonesia maupun mancanegara.

Webinar ini dihadiri oleh total 1.361 peserta, dengan rincian 420 peserta bergabung melalui Zoom Meeting dan 941 peserta menyaksikan melalui siaran langsung YouTube. Tingginya angka partisipasi ini mencerminkan besarnya minat masyarakat pendidikan terhadap isu-isu strategis yang diangkat, sekaligus menjadi bukti nyata jangkauan UT sebagai universitas terbuka yang hadir bagi semua lapisan.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FKIP Universitas Terbuka yang dalam sambutannya menegaskan bahwa webinar ini merupakan wujud nyata komitmen UT dalam memperluas akses pendidikan berkualitas, memperkuat inovasi akademik, serta membangun kemitraan global yang kokoh. Jalannya acara dipandu dengan penuh profesionalisme oleh Annisa Wulandari, mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam UT Bandung, sedangkan Moderator dibawakan oleh Ibu Ayubi Cakradiwati, M.Hum. yang berhasil membawa seluruh rangkaian acara berlangsung dinamis, hangat, dan interaktif.

Sesi pertama diisi oleh Dr. Wesal Abdulaziz Maash, Assistant Professor dari College of Education, King Saud University, Arab Saudi, dengan materi berjudul “Empowering Islamic Education Teachers for Meaningful Arabic Language Instruction.” Dr. Wesal membuka paparannya dengan sebuah kisah nyata dari hasil penelitian doktoralnya: seorang guru bahasa Arab pemula bernama Sarah yang mengajar di sekolah internasional di Riyadh. Meskipun Sarah fasih berbahasa Arab dan telah menyelesaikan pelatihan keguruan, kelasnya selalu sunyi. Para siswanya sekadar menyalin kaidah tata bahasa dari papan tulis tanpa peluang komunikasi yang berarti.
Melalui kisah Sarah, Dr. Wesal mengelaborasi akar masalah yang dihadapi pengajaran bahasa Arab di lembaga pendidikan Islam seluruh dunia. Ia menjelaskan bahwa sekitar 80 persen dari 1,8 miliar Muslim di dunia adalah non-penutur asli bahasa Arab, namun metode pengajaran yang berlaku masih didominasi pendekatan tata bahasa-terjemahan yang berpusat pada guru, pasif, dan jauh dari kebutuhan komunikatif nyata peserta didik. Kondisi ini menciptakan jurang antara pembelajaran di kelas dan kemampuan siswa memahami serta menggunakan bahasa Arab dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Sebagai solusi, Dr. Wesal menawarkan empat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik: Inquiry-Based Learning (IBL), Problem-Based Learning (PBL), Task-Based Learning (TBL), dan Case-Based Learning (CBL). Keempat pendekatan ini menempatkan bahasa Arab bukan sebagai sistem yang dihafalkan, melainkan sebagai alat komunikasi aktif untuk mengeksplorasi nilai-nilai dan konsep-konsep Islam. Dalam contoh IBL misalnya, siswa diajak menyelidiki makna konsep taqwa (تَقْوَى) melalui penelusuran ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir berbahasa Arab, lalu mempresentasikan temuannya secara berkelompok. Dr. Wesal menegaskan bahwa keberhasilan semua pendekatan ini bertumpu pada tiga pilar: refleksi guru yang konsisten, pelatihan yang relevan, dan otonomi profesional yang memungkinkan guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan nyata siswanya, bukan sekadar mengejar target kurikulum.

Sesi kedua disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Mastura Badzis dari Kulliyyah of Education, International Islamic University Malaysia (IIUM), dengan topik “Holistic Early Childhood Education: A Comparative Study of International Practices and Islamic Worldviews.” Assoc. Prof. Dr. Mastura membuka kajiannya dengan memaparkan landasan pandangan dunia Islam tentang perkembangan anak yang mencakup kesatuan tubuh, akal, dan ruh. Ia menekankan konsep fitrah sebagai disposisi bawaan manusia yang suci, serta peran tarbiyyah sebagai proses pembinaan karakter yang menyeluruh sejak usia dini.
Melalui kajian komparatif yang komprehensif, Assoc. Prof. Dr. Mastura menelaah sepuluh model pendidikan anak usia dini dari berbagai penjuru dunia, mulai dari sistem PAUD Finlandia yang menekankan play-based learning, pendidikan Montessori yang mengutamakan kemandirian dan kecepatan belajar individual, hingga Waldorf (Jerman) yang berpusat pada ritme perkembangan anak, serta sistem prasekolah Jepang yang membangun karakter sosial. Sisi Islam diwakili oleh model Prasekolah Islam Terpadu di Malaysia, program Al-Azhar Mesir, sekolah Islamic Montessori yang tersebar di Inggris, Indonesia, dan Uni Emirat Arab, serta sistem Raudhatul Athfal (RA) di Indonesia.
Dari perbandingan tersebut, Assoc. Prof. Dr. Mastura menyimpulkan bahwa model-model pendidikan internasional unggul dalam pedagogi berpusat pada anak dan pembelajaran berbasis pengalaman, sementara kerangka Islam menyumbangkan dimensi moral dan spiritual yang kokoh. Ia mendorong pengembangan model hibrida Islam–PAUD yang tidak sekadar menyisipkan konten agama ke dalam kurikulum umum, melainkan membangun keselarasan filosofis yang mendalam antara pedagogi dan pandangan dunia Islam. Di akhir paparannya, Assoc. Prof. Dr. Mastura mengidentifikasi beberapa celah yang masih perlu dijembatani, di antaranya minimnya riset empiris jangka panjang tentang efektivitas model terpadu dan inkonsistensi dalam desain kurikulum serta pelatihan guru.
Sesi tanya jawab berlangsung sangat meriah dan penuh antusiasme. Salah satu momen paling berkesan dalam sesi ini hadir dari Glady, mahasiswi MPAUD Universitas Terbuka yang beragama non-Muslim. Ia menyampaikan apresiasinya yang tulus atas kedua materi yang dipaparkan, dan mengakui bahwa perspektif Islam tentang pendidikan holistik khususnya integrasi dimensi spiritual dalam tumbuh kembang anak membuka cakrawala pemikiran baru baginya yang selama ini lebih akrab dengan pendekatan sekuler. Glady menyampaikan bahwa konsep fitrah dan tarbiyyah sangat relevan secara universal, melampaui batas-batas agama, sebagai fondasi pendidikan karakter yang bermartabat. Pernyataan ini disambut hangat oleh seluruh peserta dan mendapat apresiasi langsung dari Assoc. Prof. Dr. Mastura yang menyebut keterbukaan intelektual semacam itu sebagai semangat sejati pendidikan komparatif.
Seorang peserta lain mengangkat pertanyaan tentang bagaimana sistem RA di Indonesia dapat mengadopsi praktik terbaik dari model PAUD internasional tanpa kehilangan identitas keislamannya. Assoc. Prof. Dr. Mastura menjelaskan bahwa kuncinya terletak pada kedalaman integrasi filosofis, bukan sekadar adopsi teknis. Praktik play-based learning dari model Finlandia, misalnya, dapat dimaknai ulang dalam kerangka konsep rihlah dan eksplorasi ciptaan Allah, sehingga aktivitasnya selaras sepenuhnya dengan worldview Islam.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat elektronik oleh Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Muhammad Sulaiman, S.Pd.I., B.I.S., M.Pd. kepada para narasumber dan menyampaikan terima kasih yang mendalam atas ilmu yang mencerahkan serta membuka ruang Kerjasama yang lain. Webinar ini meninggalkan jejak akademik yang bermakna: para peserta membawa pulang tidak sekadar wawasan baru, tetapi juga semangat untuk mentransformasi praktik pendidikan di lingkungan mereka masing-masing. Universitas Terbuka menegaskan komitmennya untuk terus menjadi jembatan kolaborasi akademik internasional dan menghadirkan pengetahuan yang bermakna bagi kemajuan pendidikan Islam di era global.