Tangerang Selatan, 23 April 2026 — Universitas Terbuka (UT) melalui Program MKI, Prodi S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta Prodi S1 Pendidikan Ekonomi FKIP menyelenggarakan webinar nasional bertema “Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya: Menguatkan Identitas Lokal melalui Kewirausahaan di Era Digital” pada Kamis (23/4). Webinar yang digelar secara daring melalui Zoom dan YouTube ini didukung oleh Prodi Pendidikan Ekonomi dan Prodi Kewirausahaan Universitas Negeri Makassar, serta diikuti oleh ± 700 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, praktisi, dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara dibuka oleh Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Terbuka. Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi bahwa di tengah pesatnya arus digitalisasi, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai kekuatan ekonomi yang berdaya saing global tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai kearifan lokal.
Sambutan juga disampaikan oleh Prof. Dr. Ucu Rahayu, M.Sc., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Terbuka. Ia menyoroti tantangan globalisasi yang semakin masif di era digital saat ini, sehingga penguatan identitas lokal melalui ekonomi kreatif berbasis budaya menjadi semakin penting sebagai upaya menjaga jati diri sekaligus mendorong kewirausahaan yang adaptif dan berdaya saing.

Webinar menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Dr. Ginta Ginting, M.B.A. dan Agni Malagina, M.A. Dalam pemaparannya, Prof. Ginta Ginting menegaskan bahwa ekonomi kreatif bertumpu pada ide, kreativitas, dan inovasi sebagai sumber utama nilai tambah. Ia menyoroti pentingnya identitas lokal sebagai kekuatan diferensiasi di tengah persaingan global, serta digitalisasi sebagai sarana memperluas pasar. “Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk pola pikir kreatif dan jiwa kewirausahaan, terutama melalui integrasi budaya lokal dalam pembelajaran,” ujarnya. Ia juga memaparkan strategi pengembangan ekonomi kreatif, seperti pemanfaatan media digital, kolaborasi dengan UMKM, serta penguatan inkubator bisnis mahasiswa. Di sisi lain, ia mengingatkan tantangan yang masih dihadapi, antara lain rendahnya literasi digital dan tingginya persaingan global.

Sementara itu, Agni Malagina, M.A. memaparkan praktik pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya melalui studi kasus di Lasem, Jawa Tengah. Kawasan ini memiliki potensi besar sebagai kawasan cagar budaya dengan ratusan bangunan bersejarah. Ia menjelaskan bahwa pelestarian budaya dilakukan melalui proses pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan, yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Berbagai program berbasis komunitas seperti wisata budaya, workshop, riset, hingga pengembangan kuliner lokal menjadi contoh konkret bagaimana budaya dapat diolah menjadi peluang ekonomi kreatif. “Budaya bukan hanya warisan, tetapi juga sumber inspirasi dan peluang ekonomi jika dikelola secara inovatif,” jelasnya.

Webinar ini menegaskan bahwa sinergi antara pendidikan, budaya lokal, dan teknologi digital menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk lebih aktif mengembangkan potensi budaya lokal sebagai peluang kewirausahaan di era digital.